selayaknya engkau yang belum bisa memahami makna sekelilingmu, begitupun beberapa tulisanku. Kali ini kutulis, kuhapus, kutulisi lagi, kuhapusi lagi saja. Sebenarnya makna dari kata sama dengan makna dari sekitar ruang tempat kita berinteraksi. Tiap kata tidak akan engkau pahami maknanya sampai engkau cukup dewasa untuk bisa merasa. Dan karena itu pula beberapa kata dan tulisan akan kusembunyikan darimu—sampai engkau cukup dewasa dan bijak untuk memahami sekitar—kita bangun tembok dan labirin dulu.
Paulo Freire
Spiritualitas Sang Kala—Kahlil Gibran
Saya menyenangi kahlil dengan alasan yang sama dengan kesenangan saya kepada filsafat, kahlil…
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
juga malam akhirnya berlabuh
dan dingin pun menyebarkan kalam
seperti hujan di ujung melempar sauh
mengekalkan rindu dan cinta dalam-dalam
malam pun berganti subuh
meninggalkan kepekatan malam
pada tulang yang makin merapuh
di pandangan mata yang terus memburam
hidup adalah perjalanan malam
penuh dengan kegelapan
kau tak tahu kapan kan tenggelam
hitam adalah misteri yang kelam
penuh dengan jebakan
kau tak tahu jalan mana yang menikam
di dalam kelam
kau butuh penerang
yang bisa memberi jalan
di kegelapan malam
kau butuh penuntun
agar tak kan melangkah kaki ke jurang
hidup adalah perjalanan malam
kau tak tahu apa yang kan datang
kau tak tahu apa yang kan hilang
kau tak tahu kapan akan tenggelam
karena malam adalah penuh kegelapan
maka bersiaplah dengan bekal
seutama bekal ialah keimanan
itulah jalan penerang
seutama pakaian adalah ketakwaan
itulah pelindung badan
seutama jalan adalah jalan yang benar
untuk itulah kau butuh penunjuk jalan
bersegeralah berjalan mencari cahaya terang
karena malam kan segera beranjak siang
yang teriknya membakar kulit hingga kerontang
—Chairil Anwar 1949
Sudah tiga hari kukurung saja diriku di kamar ini. Mendadak hati ini terasa kalut, maka kularikan saja diri ini dalam peluk sunyi dan sepi. Seharusnya aku tahu apa alasannya. Tapi ternyata, sekali lagi terbukti, jujur kepada diri sendiri adalah salah satu hal tersulit.
Baru kusadari (lagi) setelah terlupa sekian lama bagaimana rasa mabuk itu. Ah, aku yang terlalu sering merasionalisasikan lewat pikir sering kali malah mengkhinati dimensi rasa. Lagi-lagi, seperti kali pertama engkau tak kuakui, begitupun kini. Bahkan saat mabuk pun masih bisa kurasionalisasikan dengan hal lainnya.
Tapi kusadari lagi, dimensi rasa dan pikir memang berbeda. Sekilas dimensi rasa memang tertundukkan lewat logika-logika yang kutata, sekilas badai yang tertimbulkan reda, tapi hanya sekilas saja. Sampai ia kuakui, kuilhami dan kusadari sendiri, baru badai itu menjelma menjadi ribut yang damai dan terkendali.
Sekarang doaku terjawab. Semua tanya perlahan menemukan wujudnya. Yaa..Rabb… betapa Cinta-Mu ini memabukkanku. Betapa Engkau mengajarkan apa yang ku pinta dulu dalam cara yang tidak disangka-sangka.
Tapi sebelum kuijinkan ia masuk lebih jauh, atau aku masuk lebih jauh kedalamnya, ada satu hal yang harus kuluruskan dulu. Haruslah nuraniku kubersihkan kembali. Sungguh, Cinta pertamaku hanyalah untuk-Mu seorang. Ya Rabb… Sang Maha Cinta, bimbinglah aku mengenal dan menjalani Cinta yang sebenar-benarnya dan semurni-murninya Cinta.
Dan aku kembali diingatkan lewat senandung Muhyiddin Ibnu Arabi saat melihat Nabi Khidir sholat:
Orang yang dilanda cinta tersibukkan oleh kekasihnya dengan segala rahasianya.
Mencintai Zat yang menciptakan udara dan yang telah menundukkannya.
Akal orang-orang arif dilepaskan dari segala hal,
Berharap keridhoan dari zat yang telah menyucikannya.
Mereka di sisi-Nya dimuliakan dan disisi-Nya pula kerahasiaan-kerahasiaan mereka terjaga.
FI Hizfillah, jagalah ia sampai kumantapkan hatiku. Jagalah ia sampai aku benar-benar mengenal Cinta-Mu.
P.S: sudah tiga malam ini saat aku menyepi selalu ada ruap baumu yang menelusup ke dalam kamar ini. Terimakasih sudah menemani :)
Bandung, 14 Mei 2013
01:50
Tak engkau miliki daulat atas janggutmu sendiri,
lalu bagaimana engkau merasa punya wewenang
soal benar atau salah.
Janggutmu memutih di luar kehendakmu:
malulah kepada janggutmu sendiri, wahai engkau
yang masih sibuk berangan-angan
membesar-besarkan diri
(Jalaludin Rumi, Matsnawi IV)
Mohon maaf jika ini kali engkau kukutuki dengan sempurna. Kukirimkan jampi-jampi di sela-sela pekat malam yang menantang fajar ini. Tapi engkaulah yang memulainya. Siapa kira pekat rindu ternyata bisa jadi lebih kelam daripada puncak malam? Ah, kadang kala kuharap tetiba Jibril datang memelukku, membisikkan sebuah wahyu, menjawab apa-apa yang berkeliaran di hati dan otakku. Tapi bukankah Jibril ada pada diri semesta? bukankah semesta adalah wahyu yang terbuka lebar untuk kubaca?
Ah, kali ini bukan penghabisan. Aku tak mau pula menyalahkan sepi. Hanya saja kali ini kukutuki engkau yang tak peka merasa. kukutuki saat aku pergi nanti, jampi-jampi ini akan berpengaruh seribu kali lipat. tenggelamlah engkau dalam pekat rindu!
terkadang kita perlu berbicara tentang titik-titk tertentu dalam rentang waktu yang kita jalani. titik-titik itu yang menjadikan waktu terhenti dan ruang tak lagi berarti. Lalu dari ketidakberdayaan diri dan kelemahan untuk mempercayai kita lewati saja titik-titik itu seakan-akan tidak terjadi apa-apa, kita sebut ia denga kata ‘kebetulan’.
tapi apa benar cuma sekedar kebetulan tanpa arti semata? bukankah sebuah sebab adalah akibat bagi yang lainnya dan sebuah akibat adalah sebab bagi yang lainnya juga? Maka tiap titik disini punya artinya sendiri. Beberapa titik membuat titik lompatannya tertentu. Termasuk soal rasa yang menjelma tanpa sadar menjadi sesuatu yang tak biasa. Ah, sudah nyaris setahun dan lompatan itu masih kusimpan sendiri saja.